River

Minggu, 27 Juni 2010

Ketika Mata Air Mulai Hilang Dititik Nol Sei Bahilang

“Dulu di sana mata airnya besar. Tapi entah kenapa tiba-tiba hilang. Kira-kira sebulan belakangan inilah,” ujar Sumarni, warga Nagori Dolok Kahean, Kec. Dolok Ilir, Kab. Simalungun, Minggu (6/6). Perempuan itu, bersama warga yang selama ini menggunakan mata air di bantaran hulu Sei Bahilang, untuk keperluan mandi dan cuci, kini pindah ke mata air satu lagi, berjarak sekira 20 meter, ke hilir.

Bermula musim kemarau datang beberapa bulan belakangan. Debit mata air mulai mengecil hingga akhirnya berhenti. Warga mengira berhentinya debit mata air untuk sementara. Tapi nyatanya, hingga lebih dari satu bulan kemudian, mata air itu tak kunjung mengucur lagi. Air jernih dan sejuk itu, seakan enggan melayani warga yang telah puluhan tahun memanfaatkannya.

Mata air yang hilang itu, debitnya besar. Untuk menjaga kelestariannya masyarakat membangun gardu dengan dua pipa yang mengalirkan air. Dibawah pipa itu disiapkan kolam bertingkat sebagai tempat warga memanfaatkan anugerah alam itu. Tapi, kini, ketika mata air hilang, gardu air itu terlihat kusam dan berdebu. Kolamnya pun mengering dan dasarnya ditumbuhi rumput-rumput liar. Jalan setapak menuju ke mata air itu kondisinya sama, dipenuhi semak belukar.



Sebagian warga di dusun itu, beralih memakai air bawah tanah menggunakan mesin pompa listrik. Meski ada juga beberapa di antaranya masih menggunakan salah satu mata air lainnya. Tapi, untuk menggunakan mata air itu, warga harus bergantian, karena sumbernya lebih kecil dari yang telah hilang. Mata air yang menghilang itu, berjarak sekira 300 meter dari titik nol Sei Bahilang. Merupakan salah satu sumber air yang langsung masuk ke badan sungai. Banyak mata air di areal yang jadi asal Sei Bahilang itu, saat ini hilang satu persatu. Beberapa yang dipantau, debitnya sangat kecil dan tak bisa dimanfaatkan. Nasib mata air di daerah itu, umumnya tak lebih baik, karena daerah resapan air telah mengalami kerusakan parah.

Menempati areal sekira satu rante, umbul itu dikelilingi pepohonan dan semak belukar. Limpahan airnya, masuk ke badan sungai mati. Dari situlah, air berbagai mata air berkumpul hingga membentuk sungai Bahilang. Umbul itu, kata Syahrin, 66, pensiunan perangkat desa, dulunya digunakan karyawan perkebunan PMA itu sebagai tempat air minum, mandi dan cuci. Kini, ketika perumahan karyawan (pondok) itu dipindah lebih kehulu, umbul itu menjadi semak belukar, sehingga kondisinya relatif terjaga. Dikhawatirkan, nasib umbul Batu Silangit itu juga bisa seperti mata air lainnya. Karena di area umbul itu, pihak perkebunan sejak lama telah menanam pohon karet dengan model terasering. Tak ada tanaman hutan di areal resapan airnya, berakibat kondisi umbul menjadi rentan hilang atau debit airnya menyusut.

Di titik nol Sei bahilang itu, ada juga sungai mati (dead river)) sepanjang lebih dari 10 km yang berpangkal di Nagori Bandar Huluan, Kec. Sinaksak. Sungai mati itu, di musim kemarau hanya dialiri air dengan debit sangat kecil. Tapi, jika di musim penghujan alur sungai itu menjadi area penampungan limpasan air dari seluruh perbukitan. Limpasan air itulah, kemudian berubah menjadi air bah yang menimbulkan kerusakan di hilir sungai, khususnya Kota Tebingtinggi.

Kondisi alur sungai mati itu juga sangat menyedihkan. Tebing sungai yang ditanami pohon karet, sama sekali tidak terawat. Tak terlihat ada upaya konservasi terhadap bantaran sungai mati itu oleh PT Brightstone Indonesia. Kondisi itu, mengakibatkan terjadinya longsor dan erosi ke badan sungai kering itu serta terjadinya pendangkalan. Malah, pada akhirnya bantaran sungai yang telah dangkal itu dimanfaatkan perkebunan sebagai area penanaman.

Sempadan sungai, sesuai tuntutan perundang-undangan mestinya menjadi areal konservasi bagi pelestarian sungai, sama sekali tidak terlihat. PT Brightstone Indonesia sebagai pemilik lahan, justru menanami areal sempadan sungai dengan tanaman karet. Perilaku perkebunan PMA Jepang itu, ternyata juga diikuti warga pemilik lahan sempadan. Sebagian besar menggunakan lahan sempadan untuk tanaman semusim. Akibatnya tingkat penggundulan sempadan sungai jadi tinggi, sehingga mempercepat sedimentasi badan sungai. Sedangkan pohon-pohon pelindung pinggiran sungai dari abrasi, seperti pohon waru, aren dan tanaman hutan lainnya, tidak mendapat perhatian selayaknya.

Lebih menyakitkan, dari penelusuran sekira 200 meter di badan sungai, cabang dan ranting pohon karet yang dipotong, dibuang begitu saja ke dalam sungai. Akibatnya, pada beberapa titik, sampah perkebunan itu menjadi penghalang arus air. Habitat air di hulun sungai juga perlahan menghilang. Beberapa anak remaja, kelihatan memancing di lubuk sungai yang airnya menggenang. Salah seorang remaja itu, mengaku memancing danberharap mendapatkan ikan lele yang masih kecil-kecil. Sedangkan beberapa ekor udang sungai juga berhasil ditangkap. Diperkirakan, habitat air di hulu sungai itu sedang berproses menuju kepunahan.

Tak hanya itu, perilaku perkebunan yang tidak menjaga kelestarian sempadan sungai, menjadi penyebab tingginya tingkat abrasi. Dasar sungai yang semula batu cadas pegunungan, kini hanya terlihat sedikit. Sebagian besar badan sungai telah diisi pasir bercampur lumpur. Sedimentasi itu, mengakibatkan badan sungai kian dangkal. Hal itu, mengakibatkan air yang masuk ke badan sungai ketika musim penghujan tiba, tak bisa menampungnya.

Beberapa warga desa itu, mengakui jika musim hujan, debit air meningkat pesat, hingga menyapu apa saja yang ada disekitarnya. “Biasanya air bah dan warga hati-hati. Karena tingginya bisa beberapa meter,” ujar Syafrin. Tapi, jika musim kemarau, air sangat sedikit. Malah, belakang warga mulai merasakan kekurangan air bersih untuk minum, mandi dan cuci, aku dia.

Penelusuran ini, menunjukkan fakta betapa kondisi sungai Bahilang sejak dari hulu hingga ke muaranya sudah rusak. Sungai Bahilang melintasi tiga daerah, berhulu di Kab. Simalungun (Nagori Dolok Kahean, Kec. Dolok Ilir), melintasi Kab. Sergai (Kec. Dolok Merawan dan Kec. Tebing Syahbandar) dan bermuara di sei Padang dalam wilayah Kota Tebingtinggi. Kondisi geopolitik sungai itu, menunjukkan tiga daerah itu, semestinya memiliki kepedulian dalam upaya pelestarian sungai Bahilang.

Mbah Hilang (tokoh legenda Sei Bahilang) menyatakan sumpahnya, sungai itu kelak akan hilang jika tak ada pelestarian atas sepotong taman surga yang dititipkan di bumi itu. Kini, sumpah itu sedang menemukan bentuknya. Perlahan, sungai itu berproses menjadi sungai hilang (pendangkalan, penyempitan, reklamasi) sejak di hulu hingga ke muaranya, seperti mata airnya yang juga mulai menghilang.@

DEBIT AIR : Debit air di hulu sungai Bahilang di Kec. Dolok Ilir, Kab. Simalungun, terlihat mengecil di musim kemarau. Hulu sungai itu telah rusak, karena tidak adanya upaya konservasi terhadap sempadan sungai oleh perkebunan. Terlihat tanaman karet berada di hingga di bibir sungai. Foto direkam, Minggu (6/6).Khaliknews

sumber : http://abdulkhalik-news.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar